Kuin Floating Market - Banjarmasin

Banjarmasin is one of two floating markets in this planet. To experience Banjarmasin you must take to the river, either by “klotok“ (river bus), or a speedboat for longer trips.

Rumpiang Bridge

Rumpiang is a small village in the Barito riverside. But, now Rumpiang is also a name for a big size bridge with 753 m length accross the Barito river. The bridge constructed to shortcut an access from Banjarmasin to Muarabahan.

Me and My Cats

I had many of cats in my home town. I grew up them cuz they were my lovely pets.

The Real World

I am The Captain of an oil tanker that travels through your veins, when you are lying half asleep in your room, unaware if it is midnight or afternoon.

Fire and Ice Collide

Reality is a lovely place but I wouldn't want to live there. From green belt balcony, the wildfires look so pretty. To the ruby redwood tree, and to the velvet climbing ivy, panited all mahogany, I'd never leave if it were up to me

21 June 2010

Mengasah Kemampuan Diri

Seorang penebang mengasah kapaknya untuk mengumpulkan kayu. Seorang pemburu mengasah pisau dan mengencangkan busur. Seorang penulis meraut pensil. Mereka semua harus memperbarui peralatannya. Mereka itu adalah anda dan saya. Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas. Tentu, tidak akan banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang telah tumpul dan aus. Tidak akan ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang telah renta. Tidak ada sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan karier yang penuh dan berlimpah?Anda memiliki sesosok tubuh yang pasti renta terkikis usia. Juga kecerdasan
yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan jaman. Serta sekepal hati
nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia. Maka tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa. Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang memungkinkan kita mendengar nyanyian kebahagiaan hidup ini.

Sumber : milis indonesia-community

20 June 2010

Hari-hari Menjelang Final Test (Semester II)

Tatas, desa Batang Kulur Tengah kecamatan Sungai Raya yaitu tempat kelahiran Saya di mana Saya menghabiskan waktu tenang menjelang final test semester ini. Mungkin liburan masa tenang ini cukup panjang. Biasanya cuma 1 minggu sebelum final test sedangkan semester ini 2 minggu karena terbentur dengan tes SNMPTN.

Waktu tersebut tidak bisa Saya manfaaatkan secara maksimal karena ada beberapa kegiatan dalam organisasi yang harus diselesaikan secepatnya. Sebab kalau tidak maka akan berdampak buruk pada organisasi tersebut, bahkan kampus kami atau mungkin bisa saja Universitasnya juga akan di cap buruk. Kenapa bisa begitu? Jawabannya karena acara yang akan kami gelar ini melibatkan seluruh Pers Mahasiswa yang ada di Indonesia untuk ikut bergabung dalam acara Pentas Jurnalistik. Jika acara ini gagal, pastilah mereka sangat kecewa dan mencap organisasi kita sebagai organisasi yang tidak profesional dalam menggelar event.

Acara berskala nasional tersebut merupakan program kerja organisasi, LPM Jurnal Kampus. Dalam acara ini dipaket menjadi Pentas Jurnalistik yang di dalamnya ada Seminar Jurnalistik dan Jurnalistik Market. Untuk konsep acaranya Saya belum tahu soalnya waktu rapat kemarin tidak hadir. hehe. Masalahnya udah duluan pulang kampung, pengin cepat-cepat menenangkan diri untuk mengahadapi final test. Supaya otak benar-benar fresh. Tapi dipertengahan masa tenang Saya balik lagi kok ke Banjarmasin.

12 June 2010

Pengaruh TV Terhadap Remaja

Saya menerima email dari salah satu anggota milis dan email ini disarankan untuk diforward untuk lebih memudahkannya dalam penyebaran email ini maka saya posting di blog ini. Tulisan ini sudah pernah Saya post di blog Saya Isinya begini:

TELEVISI merupakan media yang paling efektif untuk menyebarkan pengaruh kepada audiensnya. Sedangkan remaja, sebagai individu yang sedang mencari jati dirinya, merupakan audiens yang mudah terkena pengaruh buruk televisi. Tayangan-tayangan buruk di TV setidaknya telah membawa pengaruh negatif sebagai berikut:

1. Apatis
Tayangan-tayangan TV dewasa ini cenderung membuat remaja lebih mementingkan segala hal tentang dirinya sendiri ketimbang lingkungan sosialnya. TV mengajak mereka untuk memikirkan bagaimana penampilan mereka, bagaimana cara menarik perhatian lawan jenis, atau betapa bahagianya jadi selebritis. Hal-hal diluar itu seperti persoalan pendidikan ataupun lingkungan tidak menjadi prioritas, malah cenderung diabaikan.

2. Korban Pencitraan
Wanita cantik harus putih dan langsing serta pria tampan harus berotot atau six packs merupakan satu dari sekian banyak contoh tentang dampak buruk TV dalam membentuk pencitraan dimata remaja. Alhasil para remaja rela melakukan apapun untuk mendapatkan predikat cantik atau tampan sesuai yang disuguhkan di TV, tanpa mempedulikan aspek lain yang lebih penting seperti kesehatan.

3. Pasif dan Konsumtif
Baik terpaan iklan maupun tayangan TV telah begitu memanjakan penonton khususnya para remaja dengan kemampuan visual dan audionya. Semua ditampilkan dengan sangat menarik sehingga mereka tidak perlu berbuat apa-apa lagi selain duduk manis di depan TV. Hal ini tentu membuat para remaja menjadi pemalas dan tidak produktif.

4. Mementingkan ‘kulit luar’ Tanpa Esensi
Ketidakpedulian, kepercayaan pada citra semu, serta kemalasan yang dibentuk oleh televisi melalui tayangan-tayangan buruknya membawa para remaja menjadi pribadi yang lebih mementingkan tampilan luar. Dengan demikian mereka jadi sangat mudah menilai sesuatu sesuai dengan standar ciptaan program-program buruk di TV. Pengusaha sukses dianggap lebih patut dihargai ketimbang sopir atau pembantu rumah tangga yang setiap hari membantu mereka.

Materi tulisan ini didapat dari buku ‘Matikan TV-mu’ karya Sunardian Wirodono

Inflasi China Pecahkan Rekor Tertinggi


BEIJING - Inflasi China di Mei mencapai rekor tertinggi dalam 19 bulan terakhir, yakni sebesar 3,1 persen. Angka ini juga meningkat dari inflasi April yang sebesar 2,8 persen.

Seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (12/6/2010), Juru Bicara Biro Statistik Nasional yang melansir data tersebut menyebutkan, inflasi masih terkendali dan pemerintah yakin mampu mencapai target inflasi. Pemerintah China menargetkan rata-rata inflasi tahun 2010 maksimal tiga persen untuk menghindari risiko gelembung aset yang besar dan berdampak pada upaya pemulihan ekonomi China.

Tingkat inflasi April sesuai prediksi ekonom yang disurvei Reuters. Data juga menyebutkan, harga produsen Mei naik menjadi 7,1 persen dari posisi April 6,8 persen. Output industri China di Mei juga tumbuh 16,5 persen dari tahun lalu. Angka ini di bawah prediksi ekonom yang mematok angka 17 persen. Di April output industri naik 17,8 persen.

Sementara penjualan ritel pada Mei meningkat 18,5 persen. Naik dari posisi April yang tumbuh sekitar 18,5 persen. Sedangkan investasi aset tetap di wilayah urban-seperti apartemen dan pabrik-dari awal tahun hingga Mei 2010 tumbuh 25,9 persen. Lebih kecil dari pertumbuhan kuartal I-2010 yang 26,1 persen.

Meningkatnya inflasi di atas target menebar kekhawatiran. Ekonom menilai, Pemerintah China tidak berhasil mengontrol laju inflasi. Terutama setelah pemerintah menggelontorkan duit besar-besaran ke perbankan sebagai stimulus untuk mendorong pemulihan ekonomi.
OkeZone.com

05 June 2010

Kuliah VS Organisasi

Suatu organisasi kampus bagaikan suplemen akademik yang akan menyempurnakan ilmu-ilmu yang kita dapatkan di dalam kelas kuliah. Sebenarnya jika ada orang yang mengkambing hitamkan organisasi lantaran nilai akademiknya menurun itu merupakan kesalahan besar. Memang dalam berorganisasi kita harus bisa mengatur waktu dengan baik agar waktu untuk kuliah dan organisasi itu seimbang.

Kebanyakan orang masih menganggap organisasi itu hanya akan memperlambat kelulusan saja. Ini terbukti dari hasil survey yang di lakukan oleh teman-teman Jurnal Kampus kepada peserta Fekon Life Skil (FLS) kemarin.

Berarti di kampus kita masih banyak anak kuliah daripada mahasiswa. Lho kok? Tahukah kalian apa perbedaan anak kuliah dan mahasiswa? Sebagian pasti menjawab sama saja. Padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Anak kuliah adalah seseorang yang kerjanya hanya kuliah saja atau sering disebut TuKul (tukang kuliah), sedangkan mahasiswa adalah seseorang yang aktif, kreatif dan inovatif, tidak hanya menghabiskan waktu untuk sekedar kuliah saja tetapi juga memanfaatkan waktunya untuk berorganisasi dan mengabdi untuk masyarakat.

Organisasi merupakan salah satu aktifitas seorang mahasiswa. Dalam berorganisasi kita akan mendapat banyak hal seperti belajar beriteraksi dengan orang lain, beradaptasi dengan lingkungan sekitar, menumbuhkan sikap kritis, relasi, jaringan yang akan mempermudah kita dalam mencari kerja saat kita sudah menjadi seorang sarjana nanti dan lain-lain sebagainya. Pokoknya asyik deh.

Sering seorang organisator itu mendapat masalah seperti jadwal kuliah terbentur dengan jadwal rapat. Bagaimana menyikapinya? Tentu saja sebagai mahasiswa yang diberi tanggungjawab oleh orang tua untuk kuliah harus bisa menanggapinya dengan bijak. Kita sering mendengar istilah “kuliah no 1 dan organisasi segalanya”. Olah karena itu kita harus membuat skala prioritas dan me-manage waktu kita dengan baik sehingga kedua-duanya dapat berjalan dengan baik.

31 May 2010

Lemahnya Penegakan Supremasi Hukum di Kalsel

(artikel lomba "The Law Festival of Lambung Mangkurat")

Supremasi hukum merupakan unsur utama yang mendasari terciptanya masyarakat yang demokratis dan adil. Sehingga sangat penting keberadaannya dalam suatu wilayah, khususnya di daerah kita sendiri, Kalimantan Selatan. Bagaimana jika supremasi hukum ini tidak ditegakan sebagaimana mestinya? Apa yang akan terjadi?

Sudah jelas pasti akan timbul asas “siapa yang kuat dia menang dan siapa yang lemah dia kalah”. Jika sudah begini, dimanakah letak keadilan itu dan masih adakah keadilan tersebut? Sebuah pertanyaan yang mudah namun sulit untuk dijawab.

*) Slogan yang Sulit untuk direalisasikan
Rata-rata para penegak hukum di Indonesia termasuk di wilayah Kalimantan Selatan masih begitu lemah dalam menegakan supremasi hukum, buktinya masih banyak masyarakat yang merasa tidak adil sehingga yang kuat bisa seenaknya memanfaatkan kekuasaan mereka untuk melakukan apapun walaupun harus melanggar hukum sedangkan yang lemah tidak bisa apa-apa.

Dalam kasus di atas kita bisa memandang bahwa penegakan supremasi hukum itu bagaikan slogan yang sangat sulit untuk direalisasikan, sulit untuk ditegakan, dan sulit untuk diharapkan. Padahal Negara kita adalah Negara hukum dan seluruh warga Negara termasuk pejabat pemerintah harus tunduk dan berhak atas perlindungan hukum. Jadi tidak ada istilah asas “Siapa yang kuat dia menang dan siapa yang lemah dia yang kalah”. Tapi kenyataannya, hukum tidak akan pernah memihak kepada yang lemah atau yang miskin.

*) Hukum Sebagai Barang Ekonomi
Perdagangan hukum merupakan kegiatan yang sudah membudaya dan sudah menjadi kegiatan ekonomi dikalangan penegak hukum. Semakin banyak undang-undang yang dikeluarkan maka semakin banyak pula produk hukum yang ditawarkan. Ironisnya, tidak sedikit konsumen yang berminat jadi pembelinya dan mereka yang mampulah yang bisa membeli hukum tersebut.

Adanya perdagangan hukum ini merupakan peluang besar sang penegak hukum untuk mengais dan menggali rezeki sebanyak-banyaknya dari produk hukum yang bisa mereka jual sesuai dengan komoditi (undang-undang) yang tersedia yang telah dilanggar oleh masyarakat (konsumen hukum). Semakin tinggi harga yang ditawarkan maka semakin lemah penegakan supremasi hukum. Para penegak hukum dibuat tidak berdaya oleh tingginya harga sebuah produk hukum yang ditawarkan oleh konsumennya.

Bukti nyata telah dialami oleh teman Saya yang telah melakukan transaksi hukum di jalan raya karena melanggar peraturan lalu lintas. Teman Saya tersebut mengendarai motor tanpa mememakai helm dan tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Ketika ada dua Polisi Lalu Lintas yang memergokinya, dia diperikasa dan tidak bisa menunjukkan SIM akhirnya ditilang. Tapi Polisi tersebut mengatakan bahwa masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan cara membayar biaya administrasi sebesar Rp 50.000,- namun teman Saya hanya membawa uang Rp 20.000,- kemudian dia coba untuk menego harga tersebut sesuai dengan uang yang ada di dalam dompetnya.

Setelah kedua polisi itu merundingkan tawaran dari teman Saya, dia tidak sengaja mendengarkan diskusi kedua polisi itu sebagai berikut:
“Adanya cuma dua kosong, bagaimana?”
“ya, ambil saja. Masih banyak kok tangkapan di luar sana!”

Akhirnya terjadi kesepakatan antara pembeli dengan penjual yang biasanya dalam teori ekonomi disebut dengan price elasticity (elastisitas harga). Ini membuktikan bahwa penegakan supremasi hukum begitu tidak berdaya dan lemah bahkan dengan harga yang sangat murah saja sudah mampu melunakkan penegakan hukum.

Mungkin mereka melakukan ini karena gaji yang mereka terima terlalu sedikit sehingga mereka mencari pemasukan lain dengan cara yang ilegal atau karena masyarakat suka dengan gaya hidup yang instant sehingga ketika hendak menyelesaikan suatu masalah selalu mengambil jalan pintas. Sebenarnya siapakah yang patut disalahkan dalam ketidak adilan dalam penegakan supremasi hukum ini?

Sebenarnya ada 3 komponen utama dalam penegakan supremasi hukum itu diantaranya adalah peraturan perundangan, penegak hukum, dan masyarakat. Seandainya ketiga komponen ini benar-benar diperhatikan pasti penegakan supremasi hukum akan sesuai dengan yang diharapkan.

29 May 2010

Saatnya Jurusan IESP Bangkit

Acara Loka Karya Pemutakhiran Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi Unlam (18/5) diharapkan dapat membawa perubahan pada kurikulum Jurusan IESP yang disusun pada tahun 2003 lalu, sehingga perlu ada pembaharuan dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas lulusan jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.

Dalam momen ini digunakan untuk menggali masukan dari berbagai pihak dan dihadiri nara sumber Prof. Suahasil Nazara, SE., MSc., PhD. Ketua Departemen dan Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Drs. Haris Fadhillah, M.Si Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi Unlam Banjarmasin.

Bapak Suahasil mengatakan bahwa untuk menjadi seorang ekonom tidak cukup dengan pendidikan S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. “Karena prodi S1 hanya dasar-dasarnya saja seperti mengetahui, memahami, dan menerapkan sedangkan Prodi S2 sudah dapat menganalisis suatu perekonomian, kemudian prodi S3 mampu mensintesakan dan mengevaluasi perekonomian dunia.” Tambah beliau.

Pihak Bank Indonesia menanggapi bahwa analisis mahasiswa lulusan IESP masih mereka perlukan, disarankan untuk memasukkan dalam kurikulum mengenai analisis sektor keuangan, perlu ditingkatkan teknik penulisan laporan yang baik, penguasaan bahasa inggris dituntut untuk masuk Bank Indonesia dengan minimal TOEFEL 500 dan perilaku yang masih dinilai kurang baik untuk lulusan.

Kemudian Pak Syahid, perwakilan alumni Fakultas Ekonomi Unlam juga menanggapi bahwa proses pembelajaran pada waktu itu banyak dosen yang dari jurusan umum. Beliau mengharapkan nantinya S1 harus ada kompetensi yang dimiliki agar siap menghadapi lapangan kerja.

Mungkin banyak juga mahasiswa yang masih belum tahu apa tujuannya setelah lulus diprodi S1 IESP ini. Pertanyaan senada dilontarkan oleh Bapak Zainuddin dari Disperindag kota Banjarmasin “Jadi apa lulusan IESP?”.

Mendengar hal itu Bapak Suahasil langsung menanggapi bahwa lulusan IESP bisa memilih bidang kerja apa saja dan pendidikan S1 harus siap menjadi spesialis di suatu bidang. Di Universitasi Indonesia sudah ada pengajaran dalam bahasa inggris yang merupakan bagian dari skill untuk menuntut mahasiswanya mampu menggunakan bahasa dunia ini, bagian dari internasionalisasi UI.

“Tujuan dari loka karya pemutakhiran jurusan IESP ini agar dapat mengakomodir kurikulum yang terkait dengan kompetensi dimana kompetensi itu terkait dengan 3 hal dalam kurikulum yaitu skill, knowledge, dan attitude“ Kata Pak Yunani. “Dari acara kemarin diharapkan agar kurikulum yang akan disusun periode ini akan meningkatkan kulitas lulusan yang profesional dan memiliki sikap yang baik sehingga bisa menjadi seorang ekonom yang berakhlak.” tambahnya.

28 May 2010

Search for What Work

I love it when people fight against incredible odds to triumph over problems. Dr. Norman Vincent Peale once said, "You're only as big as the problem that stops you." I am thankful for men and women who were bigger than the problems that would have stopped and did stop so many others. The world got better right after they got better.

During the dark hours when my boss was out looking for my replacement, I started looking for articles about successful people in called the person and said, "You don't know me, but my name is Danny Cox and I've just destroyed the number-one office in my company by taking it from first place to 36th in three months. My boss is looking for my replacement righ now. Can I have lunch with you?".

These successful people not only took my calls, but agreed to have lunch with me. Some sensed the urgency in my voice; others havoc on an entire organization. the one quality in every one of these success stories was an entrepreneurial spirit. Each saw me as a challenge - or at least a curiosity.

I listened and learned and immediately started applying the lessons. I have never stopped seeking out the advice and counsel of yours. Pay attention to what's happening in your organization, your industry, and your local business community, so you can learn without experiencing your own disasters.

Work on yourself first. Your pursuit of excellence will set the agenda for everyone in your organization. Just before you drift off to sleep, ask yorself, "Whom am I inspiring by the way I do my work?" I didn't say, "Whom are you impressing...?" When people are impressed, the say, "You do good work." When they're inspired, they say, "I wish I did my work as well as you do yours."

You must lead by your example of excellence. Think of it this way: somebody somewhere is going to get better because you're reading this article.

Here are some ways to start your pursuit of excellence:

Learn from leaders around you: List the three people you admire most within your organization and the three you admire most outside of your organization. They should be accessible to you. Take these people individually to lunch or, at least, talk with them about their secrets to successful leadership. They'll enjoy telling you.

Put those methods and techniques to work: Apply what you learn to your leadership challenges. Give your benefactors feedback on how their methods and techniques work for you - and tell them about any innovations you come up with.

Focus on inspiring rather than impressing: When you impress, you rise above others. When you inspire, you bring them up with you.


"To achieve great things, know more than the average person considers necessary."

25 May 2010

Industry

In modern society work is highly organized. We have to produce enough goods to meet the needs of a large population. We call any organized and productive activity an industry. There is. For example, the timber industry, the iron and steel industry, and the motorcars industry. Some industries make direct use of natural resources. The timber and mining industries are examples. Other industries take raw materials and make them into finished products. All these industries are called manufacturing industries. The iron and steel industry processes iron ore mined from the ground. And turns is into steel. Then it manufactures many kinds of other products form the steel.

Shipbuilding and clock making are two quite different kinds of manufacturing industries. Shipbuilding is called a heavy industry. It uses large amounts of materials such as steel plate and with the aid of heavy machines, makes them into massive products. Clock making, on the I other hand. Is called a light industry. It uses only I small amount of materials to make quite small products. The main feature of industry today is the widespread use of machines. By using machinery men can produce good in greater more quickly and more cheaply than then could by using their hands. The introduction of machines on a large scale about two hundred years ago brought about the industrial revolution.

22 May 2010

Lomba Essay Tingkat Pelajar - Mahasiswa

Tema: Kita Peduli

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, aliansi Nasional Bhineka tunggal Ika (ANBTI) mengundang orang muda yang muda Indonesia berpartisipasi dalam lomba esai bertema "Kita Peduli".

Latar Belakang
Orang Muda adalah generasi pemilik dan penentu masa depan. Sebab itu, orang muda perlu belajar terus mempersiapkan diri menjadi generasi yang siap membangun kehidupan berbangsa. Tapi, orang muda kini dihadapkan pada situasi yang jauh lebih kompleks: krisis multi-aspek.
Tak jarang, ketika menghadapi kompleksitas tersebut, orang muda cenderung mencari cara untuk bisa keluar dari kerumitan hidup dan beban yang terasa menyiksa di sekolah. Persoalan, seperti narkoba, tawuran, sikap cuek, dan lain sebagainya merupakan persoalan yang tak kunjung selesai dan tampak semakin akut keadaannya.

Meski demikian, sejarah Indonesia menunjukkan dari awal pergerakan nasional, kemerdekaan, dan reformasi, orang mudalah aktor utamanya. Pertanyaannya, bagaimana orang muda kini melihat ke-Indonesiaan?

Tujuan
Orang muda diajak untuk melihat, merasakan, dan memahami permasalahan konkret bangsa ini dengan berbagai penyakit sosialnya, seperti korupsi, kekerasan, ketidakadilan gender, dan perusakan lingkungan hidup.

Menjadi sarana untuk memahami dan berbagai gagasanbagaimana ke-Indonesiaan dari perspektif orang muda saat ini.
Menjadi ruang berbagai gagasan membangun Indonesia dari sisi orang muda saat ini keluar dari kompleksitas persoalan bangsa.
Menjadi dokumentasi suara-suara orang muda yang (mungkin) tidak peranh didengar.

Target
Terkumpul 500 naskah dari tingkat SMA dan Mahasiswa. Selanjutnya akan dipilih 30 naskah terbaik yang akan diterbitkan dalam sebuah buku.

Tema
Indonesia negara Maritim. Sebagai negara kepulauan, Indonesia disatukan oleh laut. Namun, selama ini, paradigma pembangunan di Indonesia masih mengabaikan laut sebagai prioritas utama pembangunan.

Kesetaraan Gender. Kesetaraan gender berarti kesamaan peran bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-hak yang sama sebagai sesama manusia. Kesetaraan gender meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Keadilan gender berarti tidak adanya pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi, dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

Eksistensi Masyarakat Adat. Diskriminasi terhadap masyarakat adat khususnya penganut kepercayaan lokal terus saja terjadi. Parahnya, diskriminasi ini dilakukan secara sistematis, karena negara kerap membuat berbagai kebijakan publik dalam bentuk UU yang terus mendiskriminasi masyarakat adat. Seperti pengabaian atas pengakuan agama dan kepercayaan yang mereka anut. Pemerintah masih melanggengkan pengakuan terhadap “agama resmi dan tidak resmi” yang memarginalkan kelompok masyarakat di luar enam agama yang difasilitasi oleh negara (Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan yang baru diresmikan, Khonghucu). Selain itu, persoalan eksistensi kehidupan masyarakat adat juga sering digusur oleh kepentingan pemodal yang ingin mengeksploitasi tanah-tanah adat.

Syarat Lomba
Diikuti oleh Peserta Perorangan. Baik pelajar SMA, SMK atau yang setingkat dan mahasiswa (D3/S1).

Tulisan berbentuk esai dan belum pernah dipublikasikan.
Panjang tulisan maksimal 8.000 karakter (termasuk spasi) tidak termasuk halaman yang menjelaskan identitas peserta. Spasi rangkap dengan tipe huruf Times New Roman dengan font size 12.

Pengiriman tulisan
Tulisan dikirim via pos ke alamat: Jl. Tebet Barat Dalam VII No. 19 Jakarta Selatan 12810, atau melalui email ke lombaesai@anbti.org
Mencantumkan kode “Penulis” pada amplop luar di bagian kiri atas
Batas waktu penerimaan tulisan di panitia pada 2 Juli 2010 cap pos.
Tulisan disertai nama penulis, fotokopi bukti diri (KTP/Kartu Pelajar/ Kartu Mahasiswa), alamat lengkap sekolah/rumah, serta nomor telepon (sekolah/rumah/handphone).

Pemenang dan hadiah
Panitia menetapkan Juara I, II, dan III pada masing-masing kategori (pelajar dan mahasiswa). Juara I, II, III masing-masing akan mendapatkan tabungan sebesar Rp 10 juta, Rp 7,5 juta, dan Rp 5 juta (pajak ditanggung panitia).

Pengumuman tiga puluh penulis terbaik akan ditampilkan di www.anbti.org pada 24 Juli 2010.
Tiga puluh penulis terbaik (pelajar dan mahasiswa, masing-masing 15 orang) akan mendapatkan pelatihan penulisan dan paket wisata ke Yogyakarta.

Penentuan pemenang lomba (Juara I, II, dan III) akan diumumkan pada 28 Oktober 2010 dan ditampilkan dalam situs web ANBTI, www.anbti.org.
Karya pemenang lomba dan 30 penulis terbaik (pelajar dan mahasiswa) akan diterbitkan dalam sebuah buku.
Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

Juri
Dewan juri terdiri dari:

  • Ignatius Haryanto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan
  • Ayu Utami, Novelis
  • Ratna Hapsari Rudjito, Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI)

Keterangan Lebih lanjut klik di sini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More